Tepat tanggal 17/05/2008, pukul 14.30..
Tiba-tiba mati lampu, sedangkan aku sedang sibuk melayani orang yg sedang asyik main internet pada mengeluh, karena kegiatan mereka jadi terhenti. Saat itu aku dan abangku berfikir hanya mati lampu biasa, dan kami pun berusaha untuk mengatasi agar semua palanggan ku tetap dapat melanjutkan aktivitas mereka. Memang hanya beberapa komputer yang dilengkapi UPS (ketika mati lampu komputer dapat nyala sampai beberapa menit). Awalnya semua sudah dapat kembali normal. Hingga seseorang datang dan menghampiri adikku, tidak berapa lama kemudian, adikku berlari masuk kedalam rumah, dengan panik dia langsung mengatakan…
Adkku: KEBAKARAN…!!!! kak..rumah kita kebakaran..!!!”
Aku : Dimana?
Adikku : Diatas (sambil berlalu kedalam rumah)
Abangku :Matikan aja semua komputernya..! Langsung copot aja kabelnya
Aku : Dengan panik juga aku lansung ngomong ke pelangganku, “tolong semuanya pada keluar ya, rumah saya kebakaran..!!!!!!!!” dan aku langsung mencabut semua kabel komputer dalam keadaan nyala.
Tetanggaku pada datang untuk membantu kami memadamkan api diatas lantai 2 (tempat jemuran pakaian, tabung air, serta AC). Sambil berdoa dalam hati, aku turut membantu isi air untuk diangkat keatas, karena aku juga hrus menjaga rumah, agar tidak ada yang mengambil kesempatan mencuri dalam kondisi panik seperti ini. Bagaimanapun aku harus tetap berjaga-jaga dalam segala hal..
Beberapa saat kemudian, aku mendapat kabar, kalau api diatas sudah padam, PUJI TUHAN..Aku mengucap syukur PadaMu Bapa di surga..Kau selamat kami semua dari marabahaya, dan melindungi seluruh rumah kami dari kobaran api.
Satu persatu tetanggaku mulai turun dan mengatakan,”apinya da padam kok mba, ga usah khawatir lagi.” Dengan muka yang masih panik aku tidak lupa mengucapkan trimakasih banyak atas partisipasi mereka mambantu kami. Aku tidak dapat memberikan apa-apa sebagai tanda trimakasih ke mereka, tapi dalam hati aku berkata,”God Bless U all…!”
Karena penasaran, aku melangkah ke atas. Aku melihat bekas pakaian yg terbakar, tabung air penyot setengah memeleh kena api, Ac pun hitam semua, dan Fiber yang menutupi tralis yang melindungi rumahku hangus terbakar. Sambil memunguti sisa pakaian ponakanku yang selamat dari si jago merah, aku kembali membahas kejadian hari ini sambil mencari penyebab terjadinya kebarakan. Abangku menduga semua ini dapat terjadi, karena AC. Dan aku mulai menyadari bahwa AC kami yg diatas memang sudah rusak, dan apabila remot AC yg tergantung di AC kamar atas, tempat adikku tidur itu di pencet, maka tegangan listrik akan turun.
Ketika aku turun, aku mendapatkan adik angkatku namanya Budi, dan menanyakan kondisi terakhir sebelum kejadian tersebut.
Aku : Bud, siapa diantara kalian (keponakanku : Aldo, Daylen, steven) yang menghidupkan atau pencet remot AC diatas?
Budi: Daylen Ju.. (karena ponakan memanggil ku Aju ” tante” diapun memanggilku aju), kalau aku lg jaga steaven.
Aku : Aju kan da bilang dengan kalian semua, jangan pernah mainkan remot AC diatas ! Khususnya buat Daylen,karena sudah pernah kamu melakukan hal yg sama. Pertama, gara-gara itu Komputer rusak, karena mati mendadak dalam kondisi menyala, sekarang liat, rumah hampir terbakar semua…!
Dasar anak berumuran 5 tahun, nakal tapi polos, dengan santainya dia menjawab pertanyaanku, “kan baru yang diatas terbakar, rumah kita yang di bawah belum terbakar ju????” bagaiman aku ga semakin geram..!!! Huh…keluhku. Eh..masih dalam kondisi geram pudanku steaven (ponakanku yang paling bontot, umurnya masih 3 tahun), menyambungi perkataan abangnya ” ih..ih.. ada cicak ju, nanti cicaknya gosong kena api,” sambil gigit2 sedotan.. Hayah ini lg yang satu, pantang ga ikut2an. Saking kesalnya, aku tidurin aja mereka bertiga biar ga pada ribut. Jadi merapikan rumah juga tenang.
Setelah semua selesai dan lampu sudah boleh di nyalakan kembali, aku langsung memastikan kondisi semua komputerku, PUJI TUHAN…semua dapat dinyalakan tanpa ada kendala satupun. Hanya Billingnya saja yang masih aktif, jd aku tidak bisa memastikan berapa biaya pemakaian terakhir pelangganku, itupun kalau mereka masih mau datang kerumah untuk membayarnya…tp ya sudahlah kalaupun mereka tidak datang, anggap saja bagi berkat, heheh…
Memang berkat ga kemana, semenit setelah aku merapikan kembali ruangan warnet, ada dua orang datang yang hendak main internet, PUJI TUHAN…
Sebelum aku menulis kisakku ini, sesaat aku membayangkan Para Malaikat sedang melindungi seluruh sisi rumahku, khususnya diatas saat api kerbobar begitu kencang. Sehingga api itu tidak dapat menembus masuk ke dalam rumah…hal ini yang menyebabkan kami selamat dari si jago merah…(gadis pengahayaL).
Trimakasih Bapa
Atas pertolonganMu pada keluargaku..
Tak kan Kau biarkan kami celaka
Kau selalu ada bagi kami
Kau Allah ku yang hidup
Kasih Mu nyata dalam hidup ku
KU memuji keagungan MU Hari ini,
dan sampai selama-lamanya.
AMIEN…