Kisahku…











{May 20, 2008}   MARAH

Sekali marah
Sukacita hilang.

Dua kali marah
Akal sehat terbang.

Tiga kali marah
Tekanan darah naik.

Empat kali marah
teman-teman pergi.

Lima kali marah
Jadi cepat tua.

Enam kali marah
Pintu dosa terbuka.

“Amarah manusia tidak mengerjakan
kebenaran di hadapan Allah”



{May 20, 2008}   HATI

Hati yang gembira
adalah obat yang manjur.

Hati yang keras
menemui jalan buntu.

Hati yang lembut
mendatangkan sahabat.

Hati yang loba
menciptakan perangkap.

Hati yang bersih
menjauhkan masalah.

Hati yang licik
mendatangkan musuh.

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan,
karena dari situlah terpancar kehidupan”

AMSAL 4:23



{May 20, 2008}   SENYUM

Sekali senyum
curiga hilang.

Dua kali senyum
jadi sahabat.

Tiga kali senyum
hati penuh damai.

Empat kali senyum
beban jadi ringan.

Lima kali senyum
rezeki datang.

Enam kali senyum
keluarga rukun.

“Siapa memelihara mulut dan lidahnya,
memelihara diri dari pada kesukaran”



{May 20, 2008}   TERTAWA

Sekali tertawa
pusing kepala hilang.

Dua kali tertawa
bencipun sirna.

Tiga kali tertawa
persoalan lari.

Empat kali tertawa
penyakit sembuh.

Lima kali tertawa
jadi awet muda.

Enam kali tertawa
hati penuh sukacita.

“Bersukacitalah senantiasa
dalam Tuhan!”



{May 17, 2008}   BERBAGI CERITA

Kisahku… ini di tuliskan oleh NOVENDRI SURyADI

Puasss kau kan ,  hasil karya  mu dimuat di Kisahku…

Pada jaman dahulukala hiduplah seorang tukang batu yang bekerja dengan rajinnya, pada suatu saat lewatlah seorang RAja

Kemudian berpikirlah sejenak tukang batu tersebut, alangkah enaknya menjadi raja. Cuma jalan2 aja, istri banyak.

maka Dewapun mendengar keinginan tukang batu tersebut. Maka dalam sekejap pun tukang batu menjadi seorang Raja.

Pada saat melakukan inspeksi lapangan, Raja tsb “Tukang Batu” merasa kepanasan. Kemudian dia menaruh harap kembali ingin menjadi matahari.

Dewapun mengabulkan permintaanya jadilah “tukang batu” itu menjadi Matahari. jadilah “tukang batu” itu Matahari.

Karena matahari terlalu panas pada saat musim kemarau banyaklah orang yang membenci matahari dan menyukai angin. Kemudian Ia meminta kepada dewa yang baik hati tsb menjadi angin, jadilah angin..

Karena angin merusak pada saat badai datang ia melihat kehebatan awan. Ia kemudian meminta kepada dewa agar menjadi awan, jadilah awan…

Namum awan mendung pada saat hujan turun dan ia melihat gunung begitu kokoh dihadang matahari, angin, awan, pikirnya sempurnalah ia bila menjadi GUNUNg. Maka dewa mengabulkannya, Jadilah Gunung…

Namun pada suatu saat ia merasakan sakit dan ia mendengar suara yang tak asing lagi ternyata ia melihat tukang batu sedang memukuli batu digunung. KEMUDIAN IA MEMINTA MENJADI TUKANG BATU LAGI

Pesan dari cerita ini adalah; “Terkadang kita bemimpi terlalu tinggi kita tidak mementingkan kualitas namun kuantitas.”

BUKAN AWAL TERPENTING NAMUN HASIL AKHIR DALAM EPISODE HIDUP YANG KITA MAINKAN




{May 17, 2008}   KEBAKARAN…..!!!!!!!!!!

Tepat tanggal 17/05/2008, pukul 14.30..

Tiba-tiba mati lampu, sedangkan aku sedang sibuk melayani orang yg sedang asyik main internet pada mengeluh, karena kegiatan mereka jadi terhenti. Saat itu aku dan abangku berfikir hanya mati lampu biasa, dan kami pun berusaha untuk mengatasi agar semua palanggan ku tetap dapat melanjutkan aktivitas mereka. Memang hanya beberapa komputer yang dilengkapi UPS (ketika mati lampu komputer dapat nyala sampai beberapa menit). Awalnya semua sudah dapat kembali normal. Hingga seseorang datang dan menghampiri adikku, tidak berapa lama kemudian, adikku berlari masuk kedalam rumah, dengan panik dia langsung mengatakan…

Adkku: KEBAKARAN…!!!! kak..rumah kita kebakaran..!!!”

Aku : Dimana?

Adikku : Diatas (sambil berlalu kedalam rumah)

Abangku :Matikan aja semua komputernya..! Langsung copot aja kabelnya

Aku : Dengan panik juga aku lansung ngomong ke pelangganku, “tolong semuanya pada keluar ya, rumah saya kebakaran..!!!!!!!!” dan aku langsung mencabut semua kabel komputer dalam keadaan nyala.

Tetanggaku pada datang untuk membantu kami memadamkan api diatas lantai 2 (tempat jemuran pakaian, tabung air, serta AC). Sambil berdoa dalam hati, aku turut membantu isi air untuk diangkat keatas, karena aku juga hrus menjaga rumah, agar tidak ada yang mengambil kesempatan mencuri dalam kondisi panik seperti ini. Bagaimanapun aku harus tetap berjaga-jaga dalam segala hal..

Beberapa saat kemudian, aku mendapat kabar, kalau api diatas sudah padam, PUJI TUHAN..Aku mengucap syukur PadaMu Bapa di surga..Kau selamat kami semua dari marabahaya, dan melindungi seluruh rumah kami dari kobaran api.

Satu persatu tetanggaku mulai turun dan mengatakan,”apinya da padam kok mba, ga usah khawatir lagi.” Dengan muka yang masih panik aku tidak lupa mengucapkan trimakasih banyak atas partisipasi mereka mambantu kami. Aku tidak dapat memberikan apa-apa sebagai tanda trimakasih ke mereka, tapi dalam hati aku berkata,”God Bless U all…!”

Karena penasaran, aku melangkah ke atas. Aku melihat bekas pakaian yg terbakar, tabung air penyot setengah memeleh kena api, Ac pun hitam semua, dan Fiber yang menutupi tralis yang melindungi rumahku hangus terbakar. Sambil memunguti sisa pakaian ponakanku yang selamat dari si jago merah, aku kembali membahas kejadian hari ini sambil mencari penyebab terjadinya kebarakan. Abangku menduga semua ini dapat terjadi, karena AC. Dan aku mulai menyadari bahwa AC kami yg diatas memang sudah rusak, dan apabila remot AC yg tergantung di AC kamar atas, tempat adikku tidur itu di pencet, maka tegangan listrik akan turun.

Ketika aku turun, aku mendapatkan adik angkatku namanya Budi, dan menanyakan kondisi terakhir sebelum kejadian tersebut.

Aku : Bud, siapa diantara kalian (keponakanku : Aldo, Daylen, steven) yang menghidupkan atau pencet remot AC diatas?

Budi: Daylen Ju.. (karena ponakan memanggil ku Aju ” tante” diapun memanggilku aju), kalau aku lg jaga steaven.

Aku : Aju kan da bilang dengan kalian semua, jangan pernah mainkan remot AC diatas ! Khususnya buat Daylen,karena sudah pernah kamu melakukan hal yg sama. Pertama, gara-gara itu Komputer rusak, karena mati mendadak dalam kondisi menyala, sekarang liat, rumah hampir terbakar semua…!

Dasar anak berumuran 5 tahun, nakal tapi polos, dengan santainya dia menjawab pertanyaanku, “kan baru yang diatas terbakar, rumah kita yang di bawah belum terbakar ju????” bagaiman aku ga semakin geram..!!! Huh…keluhku. Eh..masih dalam kondisi geram pudanku steaven (ponakanku yang paling bontot, umurnya masih 3 tahun), menyambungi perkataan abangnya ” ih..ih.. ada cicak ju, nanti cicaknya gosong kena api,” sambil gigit2 sedotan.. Hayah ini lg yang satu, pantang ga ikut2an. Saking kesalnya, aku tidurin aja mereka bertiga biar ga pada ribut. Jadi merapikan rumah juga tenang.

Setelah semua selesai dan lampu sudah boleh di nyalakan kembali, aku langsung memastikan kondisi semua komputerku, PUJI TUHAN…semua dapat dinyalakan tanpa ada kendala satupun. Hanya Billingnya saja yang masih aktif, jd aku tidak bisa memastikan berapa biaya pemakaian terakhir pelangganku, itupun kalau mereka masih mau datang kerumah untuk membayarnya…tp ya sudahlah kalaupun mereka tidak datang, anggap saja bagi berkat, heheh…

Memang berkat ga kemana, semenit setelah aku merapikan kembali ruangan warnet, ada dua orang datang yang hendak main internet, PUJI TUHAN…

Sebelum aku menulis kisakku ini, sesaat aku membayangkan Para Malaikat sedang melindungi seluruh sisi rumahku, khususnya diatas saat api kerbobar begitu kencang. Sehingga api itu tidak dapat menembus masuk ke dalam rumah…hal ini yang menyebabkan kami selamat dari si jago merah…(gadis pengahayaL).

Trimakasih Bapa

Atas pertolonganMu pada keluargaku..

Tak kan Kau biarkan kami celaka

Kau selalu ada bagi kami

Kau Allah ku yang hidup

Kasih Mu nyata dalam hidup ku

KU memuji keagungan MU Hari ini,

dan sampai selama-lamanya.

AMIEN…








{May 12, 2008}   “A Prayer for Family”

Come and fill our home with Your presence,
You alone are worthy of our rev’rence.
As for me and my house, we will serve the Lord.
As for me and my house, we will serve the Lord.
As for me and my house, we will serve the Lord.
We will serve the Lord.

Lord we vow to live holy, bowing our knees to You only.
As for me and my house, we will serve the Lord.
As for me and my house, we will serve the Lord.
As for me and my house, we will serve the Lord,
We will serve the Lord.

Staying together, praying together,
Any storm we can weather trusting in God’s Word.
We need each other, fathers and mothers,
Sisters and brothers in harmony and love. *

* “The Family Prayer Song” by Morris Chapman



{May 9, 2008}   Sedih…

Sedih…

tak dapat terungkapkan, apa yg sedang aku rasakan hari ini…

jika kau bertanya padaku, kenapa ? ? ? ? ?

aku pun tak kan dapat menjawabnya

apa yang menjadi salah satu pertanyaan diriku sendiri…

huh…lelah rasanya

kuharap esok, ketika mata ini menyambut sang surya

hangatnya akan membalut sedihku

hingga saluran darah ku mulai normal

dan pikiran ku dapat mencari penyebab kesedihan hari ini



et cetera